Saat peringatan hari peduli sampah nasional di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Wukirsari, Baleharjo,(23/2/2018), Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Gunungkidul, Agus Priyanto bilang, Pemerintah Kabupaten melalui DLH terus berupaya mengedukasi masyarakat terkait pengelolaan sampah, sehingga sampah bukan menjadi barang yang tidak berguna tetapi bernilai guna yaitu menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis. Harapannya dengan kesadaran yang dimiliki masyarakat sampah menjadi berguna, salah satunya dengan cara memebentuk komunitas-komunitas kecil, penggerak bank sampah. Saat ini sebanyak 144 Desa atau bank sampah diharapkan berkiprah. Selain melakukan peningkatan standar TPA Wukirsari juga dilakukan peningkatan pengelolaan sampah. Saat ini setidaknya setiap wisatawan yang datang menyumbang 0,7 kilogram (kg) atau 7 ons sampah. Kedepan diharapkan kesadaran atau budaya masyarakat untuk menyikapi permasalahan sampah meningkat termasuk budaya untuk melakukan pemilahan sampah, dan pengelolaannya.
Larangan membuang sampah sudah
diatur dalam Perda No.10/2012 tentang Pengelolaan Sampah. Kepala DLH Kota Jogja
Suyana bilang, dalam perda tersebut mengatur soal sanksi di Pasal 41. Yang
membuang sampah sembarangan didenda Rp50 juta atau kurungan badan paling lama
tiga bulan. Menurut Suyana, Perda itu sudah lama disosialisasikan kepada masyarakat.Karena
itu, jika menemukan masyarakat membuang sampah sembarangan, DLH akan
menggandeng Penyidik Pegawai Negeri Sipil [PPNS] Satpol PP untuk diproses
sampai pengadilan dan dijerat tindak pidana ringan. OTT pembuang sampah
sembarangan dimulai 21 Februari, bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional
(HPSN). HPSN yang rutin diperingati sejak 2005 lalu bermula dari tragedi
longsornya tumpukan sampah di Lewigajah, Cimahi, Jawa Barat 2005 lalu. Tragedi
tersebut merenggut beberapa korban jiwa.
Secara nasional Kuartal IV 2017 dunia usaha mengalami kelesuan terutama di sektor padat karya dengan komoditas ekspor yang diproduksi. Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) DIY, Hermelin Yusuf bilang, kelesuan perekonomian terjadi hampir di semua daerah. Kenaikan upah minimum karyawan yang tidak sama antara daerah yang satu dengan yang lain, membuat kondisi semakin lesu. Selain itu turunnya margin keuntungan yang diperoleh pelaku usaha menjadi salah satu sebabnya dimana sekarang untuk ekspor banyak persyaratan yang harus ditempuh, sehingga membuat keuntungan berkurang.Sektor usaha yang cukup terasa dampaknya yaitu industri garmen.



